Rabu, 30 Desember 2015

Proses dan Metode Pengawasan

Proses Pengawasan
            Pengawasan adalah suatu usaha sistematis menetapkan standar – standar dengan tujuan perencanaan, merancang bangun system umpan balik informasi, membandingkan kinerja sebenarnya dengan standar – standar yang telah ditentukan terlebih dahulu, menentukan apakah ada penyimpanan dan mengukur kemuradanya, serta mengambil tindakan yang diperlukan yang menjamin pemanfaatan penuh sumberdaya yang digunakan secara efisien dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Dengan demikian langkah unsur proses pengawasan itu adalah sebagai berikut:
1) Pencapain standar dan metode pengukuran kinerja,
2) Pengukuran kinerja yang senyatanya;
3) Pembandingan kinerja dengan standar serta menafsirkan penyimpangan – penyimpangan; dan
4) Mengadakan tindakan korektif.
            Standar yang ditentukan itu berupa standar masukan yang berupa usaha kerja, dan standar keluaran berupa ukuran kuantitas,kualitas, biaya atau waktu pengukuran kinerja senyatanya adalah untuk melihat adanya  penyimpangan atau varians antara apa yang terjadi senyatanya dengan apa yang di harapkan.
Pembandingan kinerja senyatanya dengan tujuan atau standar  dapat menghasilkan kinerja sama dengan standar atau dengan kinerja lain dengan standar yang terakhir memerlukan manajemen berdasar pengecualian: manajemen perlu memperhatikan situasi dimana  penyimpangan antara kinerja senyata dengan yang diharapkan sangatlah besar. Yang pertama cukup mempertahankan situasi; tak perlu dilakukan tindakan korektif.
Bila penyimpangan yang terjadi itu besar maka perlu tindakan korektif yakni perbaikan agar hasilnya sesuai dengan standar yang telah ditentukan sebelumnya.
            Pengawasan itu dapat intern, dapat pula ekstern. Pengawasan intern melalui disiplin diri dan latihan tanggung jawab individual atau kelompok. Pengawasan ekstern terjadi melalui supervise langsung atau penerapan system administrative seperti aturan dan prosedur. Pengawasan efektif yang akan di uraikan kemudian, merupakan kombinasi dari keduanya.
Ada empat jenis pengawasan ekstern, yaitu:
1. Prapengawasan disebut juga precontrol  atau feed-forward-control; yaitu pengawasan yang di lakukan sebelum memulai kegiatan, terdiri atas kegiatan persiapan:  Spesifikasi masukan, keluaaran, kejelasan tujuan, sumber daya yang di perlukan.
2. Pengawasan pengarahan atau steering control yang fokusnya adalah pada apa yang terjadi selama proses kerja. Juga di kenal dengan nama concurrent control. Disini diusahakan untuk menemukan masalah dan melakukan tindakan perbaikan sebelum hasil akhir.
3.Pengawasan ya/tidak (yes/no-control) yang menspesifikasi titik kritis yang harus di lalui sebelum suatu kegiatan berlanjut. Pada suatu titik segala persyaratan harus dipenuhi terlebih dahulu (ya) sebelum proses berlanjut. Jadi kalau tidak, proses berhenti.
4. Pengawasan pasca kegiatan (post action control atau feedback control), dilakukan setelah kegiatan selesai. 
            Adapun faktor-faktor yang menjadi pengawasan itu merupakan keharusan ialah:
1)  Adanya perubahan yang memerlukan penyesuain-penyesuain baru dan ini harus selalu diawasi;
2)  Adanya kekomplekan system memerlukan pengawasan yang lebih banyak;
3)  Adanya kesalahan-kesalahan memerlukan pengawasan agar  dapat dilakukan tindakan perbaikan; dan
4)  Adanya delegasi perlu pengawasan terhadap para pelaksana agar jangan sampai melakukan penyimpangan yang terlalu banyak sehingga sulit dibenahi lagi.
            Dengan memperhatikan faktor-faktor diatas , maka tercapailah sasaran-sasaran pengawasan yaitu :
1.      Meningkatkan disiplin dan prestasi kerja
2.      Menekansekecil mungkin penyalahgunaan wewenang
3.      Menekan sekecil mungkin kebocoran dan pemborosan
4.      Meningkatkan pelayanan
5.      Memperlancar segala kegiatan .
Metode  Pengawasan
            Pada kegiatan  belajar 1 telah dikemukakan  berbagai  jenis  (metode) pengawasan, yaitu pengawasan pengarahan , pengawasan penapisan (screening) atau   yes-no-control,    dan
pengawasan pasca  kegiatan.
            Pengawasan   pengarahan    ditujukan    terhadap      masukan  dan  proses,  pengawasan  
penapisan di lakukan terhadap proses dan pengawasan  pasca -kegiatan di lakukan terhadap
hasil. Di dalam suatu organisasi biasanya di laksanakan pengawasan  kombinasi ketiganya.

     Metode pengawasan lainnya yang telah pula di sebutkan ialah :
1) sistem penilaian kinerja
2) sistem pembayaran  dan imbalan
3)sistem MBO atau manajemen berdasar tujuan
4) sistem karyawan dan kedisiplinan
5) sistem pengawasan berdasar anggaran , dan
6) sistem informasi manajemen

          Penilaian kinerja merupakan proses secara  formula melalui kinerja dan memberikan umpan balik sebagai dasar penyesuaian.  Berbagai metode di gunakan di dalam penilaiain kinerja , seperti skala peringkat grafis , skala peringkat berdasar perilaku , teknik kejadian kritis , penguraian kinerja organisasi. Jadi anggota organisasi di ikut sertakan pada kegiatan organisasi sehingga  timbul  rasa memiliki.
          Sistem disiplin karyawan menciptakan disiplin karyawan dengan peringatan-peringatan  yang seyogianya bersifat segera , ditujukan pada kegiatan  bukan pribadi   seseorang ,    harus konsisten dalam waktu dan manusia . Memberikan informasi , terjadi dalam situasi yang penuh persaudaran dan harapanya haruslah realistik.
          Manajemen berdasar tujuan adalah proses penentuan tujuan bersama antara penyedia dan bawahan. Manajemen berdasar tujuan (management by objectives (MBO) ) mencakup persetujuan formal antara penyedia dan bawahan bertalian dengan  (1)   tujuan kinerja bawahan untuk suatu periode tertentu ,  (2)  rencana pencapaian tujuan ,  (3)  standar untuk mengukur apabila tujuan telah dicapai dan   (4)  prosedur meninjau ulang hasil-hasil.
           Di dalam proses  MBO yang penting adalah menentukan tujuan kinerja. Tujuan kinerja yang baik adalah pencapain yang diharapkan  dan  yang dapat diukur sebagai hasil akhir  atau di verifikasi sebagai serngkaian kegiatan kinerja. Tujuan kinerja biasanya tertulis  dan secara formal disetujui  baik oleh atasan maupun bawahan.
            Ada 3 tujuan , yaitu tujuan perbaikan dengan berupaya meningkatkan factor kinerja  ; tujuan pengembangan yang bertalian dengan kegiatan perkembangan pribadi ,  dan tujuan pemeliharaan secara formal mencerminkan maksud menruskan kinerja berdasar peringkat yang    ada sekarang.
            Sistem pengawasan berdasar anggaran  (budgetary control)  sangat penting bagi suatu organisasi.  Anggaran merupakan ekspresi  rencana secara kuantitatif  dan finansial. Dengan anggaran dialokasikan sumber daya pada kegiatan. Anggaran di nyatakan dalam satuan moneter , mengandung unsur komitmen manajemen , berdasarkan sulan  dan dapat di ubah kalau kondisi berubah.
             Sistem  pengawasan anggaran di laksanakan pada pusar-pusat  pertanggungjawaban , apakah  itu pusat pendapataan, biaya laba ataupun investasi  . Anggaran itu berjenis-jenis .  Ada yang tetap atau statis  , ada yang luwes ,  ada yang jangka pendek  , operasi, dan anggaran utama serta anggaran jangka panjang  ada pula anggaran nilai nol.
            Berbagai alat analisis  dapat di manfaatkan untuk membuat anggaran sehingga kita dapat melakukan pengawasan berdasar anggaran . Alat analisis tersebut  adalah  analisi break-even atau impas dan  rasio..
Anggaran dibuat agar berada  di atas impas sehingga badan  usaha memperolah laba.
Urutan yang ditempuh dalam MBO adalah sbb;
1. Para anggota menyusun tujuan kinerja  yang pokok untuk masa datang sekaligus dengan
     jadwal pencapainya.
2. Tujuan diusulkan pada  penyedia  agar ditinjau ulang;  dilakukan diskusi anatara penyelia dan
    bawahan sehingga tercapai tujuan yang disetujui bersama
3. Penyelia dan bawahan bertemu secara periodik  meninjau  ulang kemajuan dan melakukan revisi  atau memperbaharui tujuan bila di perlukan
4. Pada akhir tahun , para anggota menyerahkan laporan kinerja yang memuat pencapain tujuan dan komentar penyimpangan
5. Penilain diri / pengawasn diri ini dibicarakan dengan penyelia;   alas an mengapa tujuan tak
   tercapai di bicarakan disini.
6. Tujuan yang baru ditetapkan untuk tahun yang akan datang;  dan baru  MBO  mulai.

Pengawasan Yang Efektif
            Agar pengawasan efektif, maka para manajer  harus menghayati reaksi manusia terhadap sistem pengawasan.  Manusia tidak begaitu saja  menerima pengawsan  yang  dilakukan manajer.
Reaksinya bermacam-macam menolak sekali pengawsan terhadapnya, mempertahankan diri darisistem pengawasan  yang diterapkan padanya dan  membela kinerja dan  menolak sasaran kinerja yang tersirat dan tersurut  pada tujuan.
            Hal ini makin jelas bila sumber daya terbatas   dan situasi  penuh tekanan.  Dalam situasi seperti itu ,  orang cenderung  untuk  mempertahankan  hasil  kerja yang dibatasi  oleh  kendala sehingga pengawasan  biasanya  tidak  dikehendaki.

            Stoner  mengemukakan bahwa  pengawasan  yang efektif  itu   haruslah memenuhi   persyaratan  sbb:
1. Ketepatan
2. Sesuai waktu,
3. Objektif dan kompherensif ,
4. Fokus pada titik pengawasan strategis,
5. Realistis secara ekonomis,
6. Realistis secara organisatoris
7. Terkoordinasi dengan aliran kerja organiasi,
8. Luwes
9. Prespektif dan opersional,
10.Dapat diterima para anggota organisasi.

            Menurut Schermerhorn , agar supaya pengawasan itu efektif haruslah :
1.      Berorientasi pada hal-hal yang strategis pada hasil-hasil
2.      Berbasis informasi
3.      Tidak kompleks
4.      Cepat dan berorientasi perkecualian
5.      Dapat dimengerti
6.      Luwes
7.      Konsisten dengan struktur organisasi
8.      Dirancang untuk mengakomodasi pengawasan diri
9.      Positif mengarah ke perkembangan , perubahan dan perbaikan
1.  Jujur dan objektif
Sistem pengawasan yang efektif itu seharusnya mendukung strategis dan memfokuskan diri pada apa yang harus dilakukan , tidak saja pada usaha pengukuran .  Pokok perhatian ada pada kegiatan yang penting bagi tercapainya tujuan organisasi.
Sistem pengawasan harus mendukung usaha menyelesaikan masalah dengan pengambilan keputusan , tidak haanya menunjukkan penyimpangan-penyimpangan. Sistem tersebut harus dapat menunjukan mengapa terjadi penyimpangan dan apa yang harus dilakukan untuk perbaikannya.
Sistem pengawasan harus dapat dengan cepat atau dini mendeteksi penyimpangan sehingga tindakan perbaikan dapat pula dilakukan dengan segera agar terhindar hal-hal yang tidak diharapkan ; kalau perlu dengan cara-cara pengecualian .
Sistem pengawasan yang efektif memberikan informasi yang cukup bagi para pengambil keputusan , artinya informasi yang mudah dimengerti , padat . Sistem pengawasan harus dapat mengakomodasi situasi yang unik atau yang berubah-ubah . Sistem pengawasan harus pula dapat mengakomodasikan kapasitas seseorang untuk mengawasi dirinya sendiri . Yang penting harus ada saling percaya , komunikasi dan partisipasi pihak-pihak yang berkepentingan . Pengawasan diri tercipta bila rancang bangun kerja itu jelas dan pemilihan orang yang mampu bagi pekerjaannya dilakukan dengan baik .
Sistem pengawasan harus menitik-beratkan  pada pengembangan , perubahan dan perbaikan ; kalau dapat sanksi dan peringatan itu diminumkan . Kalau sanksi diperlukan haruslah dilaksanakan dengan hati-hati dan manusiawi . Akhirnya sistem pengawasan harus jujur dan objektif artinya tidak memihak , dan satu-satunya tujuan adalah peningkatan kerja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar